REVIEW FILM THE LAST SAMURAI & KOLERASINYA DENGAN AKUNTANSI INTERNASIONAL

REVIEW FILM "THE LAST SAMURAI"

Film ini dikisahkan oleh seorang tentara Amerika yang berpangkat kapten bernama Nathan Algren (Tom cruise) yang sebelumnya telah melakukan peperangan dengan suku Indian (penduduk asli Amerika). Karena keberhasilan Algren dalam memimpin setiap medan perang ini, Algren mendapatkan tawaran dari pembisnis Jepang bernama Mr. Omura untuk melatih prajurit sipil jepang  melawan pasukan samurai yang dipimpin oleh katsumoto. Alasan Omura memberikan perlawanan ini karena samurai dianggap sebagai suku barbar yang sudah tidak sesuai dengan visi negara Jepang yang modern. Beberapa hari setelah melatih Algren dipaksa Omura untuk melakukan pertempuran, padahal Algren mengetahui bahwa pasukannya belum siap menghadapi pasukan samurai yang terlatih. Persis yang diramalkan Algren, pasukannya kocar-kacir dan dia harus mati-matian mempertahankan diri dari medan peperangan. Ia berhasil menyelamatkan dirinya dari hunusan pedang Hirotaro (adik ipar Katsumoto) dengan menikam Hirotaro tepat dilehernya. Sebernarnya Algren hampir terbunuh, namun Katsumoto memutuskan agar Algren dijadikan tawanan para samurai.

            Selama menjadi tawanan samurai, Algren mendapatkan perilaku baik layaknya seorang tamu, bahkan Algren juga dirawat dengan baik oleh Taka (istri Hirotaro) yang telah dibunuhnya. Algren juga menyampaikan maaf pada Taka, namun Taka mengatakan bahwa suaminya meninggal dengan terhormat, dan Algran hanyalah menjalankan tugasnya. Setiap hari ia diundang menemui katsumoto untuk sekedar bercakap-cakap dengan alasan ingin mengenal musuhnya dengan baik. Hari demi hari menjadi tawanan sekaligus teman bicara Katsumoto membuat Algren terkesan dengan kehidupan para samurai yang disiplin, teratur, setia pada tanah kelahiran, adat istiadat, dan leluhur. Algren mulai mempelajari bela diri samurai dan dengan cepat ia menyerapnya.
Tiba waktunya Algren dilepaskan tawanannya dan diantarkan ke kota untuk bergabung dengan Omura (resimennya). Dengan berat hati Algren meninggalkan desa samurai. Sesampai di resimennya, Algren sangat terkejut dengan kemajuan peralatan perang yaitu senjata yang semakin canggih Meriam howitzer dan pasukan yang lebih terlatih dari sebelumnya. Hingga pada suatu malam Algren mendapat kabar bahwa katsumoto telah ditangkap dan akan dibunuh. Kemudian Algren menyusup untuk membantu Katsumoto melarikan diri, dalam pertempuran ini anak lelaki Katsumoto tak terselamatkan.Algren dan para samurai lalu kembali ke desa untuk mempersiapkan perang melawan pasukan jendral Omura. Algran memutuskan untuk bergabung dengan pasukan samurai. Pertempuran berlangsung sengit, diawal dimenangkan pasukan samurai. Namun karena adanya senjata canggih Meriam howitzer membuat pasukan Samurai tumbang, hingga hanya katsumoto dan Algren yang tersisa. Katsumoto ingin mati terhormat dengan meminta Algren menikamkan samurai yang ada ditangannya kepadanya. Kematian Katsumoto dianggap suku samurai sebagai kematian sempurna, karena meninggal dimedan perang demi mempertahankan jati diri, kesetiaan pada leluhur, keberanian dan harga diri. Akhirnya, Algrenlah samuarai yang terakhir. Ia kembali ke desa untuk menetap disana.


The Last Samurai dan Hubungannya Dengan Akuntansi Internasional

International Accounting adalah program untuk memberikan pemahaman tentang aspek-aspek internasional dari akuntansi . Ada banyak aspek seperti politik, sosial , ekonomi , budaya , dan idealisme yang mempengaruhi praktik akuntansi di dunia. Dimana dibutuhkan perspektif internasional individu diri akuntan. Film The Last Samurai adalah film yang menceritakan tentang bagaimana warga lokal dengan budaya dan idealisme mereka melawan Meiji modernisasi, karena dapat merusak nilai-nilai lokal dan dampak terhadap kehidupan masa depan mereka.

Dalam film ini terdapat hikmah yang dapat dipetik berkaitan dengan akuntansi internasional:
1.    Dalam kaitannya dengan standar akuntansi atau bisnis Internasional bahwa apa yang telah kita hilangkan dari nilai-nilai lokal ketika kita menerapkan satu standar bisnis  di suatu negara? Sebaiknya Kita harus menyadari bahwa nilai-nilai tradisi lokal telah dibangun dan dikembangkan melalui  pengalaman berharga, teknik-teknik untuk melindungi lingkungan lokal mereka dan keterampilan untuk menangani konflik sosial selama berabad-abad. Oleh karena itu tidak seharusnya kita mengacu 100% standar akuntansi internasional. Kita harus memasukkan unsur-unsur lokal yang sesuai dengan kebudayaan Negara kita. Sebagai misalnya yang sudah berkembang di Indonesia, dimana Indonesia adalah Negara yang sebagian besar penduduknya muslim. Pada masa sekarang  terdapat banyak institusi keuangan berbasis syari’ah yang berdiri di Indonesia.
2.    Adalah sangat penting untuk memperkenalkan dan mengetahui etika dengan baik, mengetahui adat dan tradisi lokal sebelum kita mengembangkan dan menerapkan globalisasi. Karena dengan memahami kehidupan mereka, kita dapat mengambil keputusan keuangan yang tidak dapat merugikan pihak manapun. Jadi kita sebagai akuntan tidak harus seperti Omura dan orang-orangnya yang membuat keputusan bisnis dengan perspektif secara individual tanpa mempertimbangkan keputusan lokal. Ketika kita mengabaikan budaya sendiri, informasi yang salah mengenai mereka, menolak keberadaan mereka, atau berusaha untuk menyerangnya, hal ini dapat menyebkan perang saudara (emosi ekstrim).
3.    Sebagai seorang pemimpin tertinggi sangatlah penting untuk menghargai nilai-nilai lokal sebelum melakukan degradasi dan modernisasi. Komunikasi internal harus menjadi kunci utama untuk komunikasi eksternal. Jangan mudah terhasut oleh pihak luar yang berusaha memasukkan unsur budaya yang tidak sesuai dengan kepribadian/ jati diri bangsa kita.
4.     Akuntan harus memiliki kompetensi mental, intuitif , dan emosional untuk memahami nilai-nilai lokal dan internasional . Akuntan dapat menggunakan nilai-nilai tradisional atau lokal sebagai paradigma untuk mengembangkan standar akuntansi internasional . Standar akuntansi internasional harus mampu mengintegrasikan semua perbedaan dalam bisnis tanpa menghilangkan kearifan lokal.



“Mengutip kata-kata terakhir Kaisar di film The Last Samurai, "We can be modern country, we are wearing western clothes, we have railway, but we cannot forget WHO WE ARE."
 

Komentar

  1. Jika artikel ini bermanfaat bagi anda silahkan dikomen yah :) salam sejahtera :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Soal latihan Ujian Pengantar Akuntansi